Mengatasi Kekhawatiran

Seorang wanita bernama Marta, menikah dengan seorang suami yang sangat sabar, penyayang, dan bertanggung jawab. Mereka dikaruniai tiga anak. Marta bercerita, bahwa tahun-tahun pertama hidup berkeluarga, suaminya yang sangat baik itu sangat membantunya untuk mengatasi sikap bawaannya yang selalu khawatir. Banyak hal yang dikhawatirkannya itu membuat dirinya sangat tertutup. Tapi dengan berjalannya waktu, sifat itu akhirnya berubah.

Ibu Marta melihat dirinya bukan sebagai satu-satunya manusia yang pernah sangat tersiksa oleh sifat khawatirnya itu, melainkan ia menemukan, bahwa profil Marta di dalam Injil juga memiliki sifat khawatir yang sama. Rasa khawatir itu adalah sangat manusiawi dan setiap manusia memilikinya. Marta di dalam Injil, paling kurang disebutkan dalam dua peristiwa, ketika ia ditegur oleh Yesus Kristus karena sifat khawatirnya yang berakibat pada penghayatan iman yang rapuh. Ia ditegur oleh Yesus, ketika sibuk dengan pekerjaan di rumah untuk melayani Yesus yang bertamu, sementara Maria saudarinya duduk dekat Yesus. Ia juga pernah ditegur oleh Yesus, ketika tidak yakin, bahwa Lazarus pasti bangkit dari kematian hanya dengan jalan iman kepada Kristus.

Rasa khawatir juga ditunjukkan oleh Nabi Yeremia, ketika memang menyukuri kelahirannya ke dunia dari Ibunya, tapi ia sangat khawatir dengan hidupnya sebagai seorang abdi Allah yang tidak sanggup menghadapi musuh-musuhnya. Ia sepertinya hilang keyakinan kepada Tuhan.

Pengalaman-pengalaman kekhawatiran yang disebutkan ini cukup memberikan kita gambaran, bahwa sifat khawatir memiliki kekurangan yang harus diatasi. Jika tidak diatasi, ia akan jadi ketakutan yang pasti lebih merugikan daripada jadi berkat.

Sifat khawatir mesti diatasi supaya kita dapat jadi orang yang terbuka dan mengisi hidup ini dengan berbagai inisiatif serta kreativitas dalam membawa kebaikan bagi hidup bersama. Perlu diingat, bila satu rasa khawatir yang menguasai diri ini, berarti kita menghilangkan satu kesempatan untuk berbuat baik.

Sifat khawatir ini mesti diatasi agar kita semakin memiliki keyakinan kepada Tuhan yang senantiasa menyertai, tapi juga sedang bekerja di dalam diri kita. Rasa khawatir itu menjauhkan kita dari Tuhan yang sesungguhnya berada bersama kita.

Santa Marta, demikian juga Maria dan Lazarus yang dirayakan hari ini mengingatkan kita satu hal, bahwa meskipun kita khawatir akan siapa dan apa saja di dalam hidup kita, satu hal yang tidak boleh hilang dari kita ialah selalu memandang dan mendengarkan Tuhan yang menegur, menyapa, dan menerangi hidup kita.

“Ya, Tuhan Yesus Kristus, kami mohon supaya hidup dan pekerjaan-pekerjaan kami senantiasa berada di dalam penyelenggaraan-Mu. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)