Pengorbanan yang Bijaksana

Ada suatu kejadian, ketika seorang pemuda sangat mencintai gadis yang ditaksirnya. Ia ingin melamar gadis itu di sebuah jembatan di atas sungai yang luas dan dalam, serta disaksikan banyak orang. Pemuda itu membawa cincin, bunga, dan sebuah bingkisan berharga.

Sebelum menyatakan lamarannya, gadis cantik itu meminta agar pacarnya terjun ke sungai untuk membuktikan cintanya. Pemuda itu menyanggupi, lalu meletakkan semua barang bawaannya. Ia membuka sepatu dan terjun. Sesaat kemudian ia kembali ke jembatan dalam kondisi basah kuyup dan hendak menyatakan lamarannya. Tapi alangkah kagetnya pemuda itu dan orang di sekitarnya, ternyata gadis itu menolak lamarannya yang sudah berkorban menyiapkan segala sesuatu dan terjun ke sungai.

Kisah ini adalah contoh sebuah pengorbanan yang sia-sia. Pemuda itu terlanjur melakukannya, tapi hasil akhirnya kosong.

Ada banyak pengalaman tentang pengorbanan yang sia-sia di sekitar kita. Ada orang yang bekerja dengan modal kemauan yang baik, tapi tidak didukung oleh sumber daya, baik manusia maupun materi pendukung, maka pekerjaan itu sia-sia. Ada yang bekerja atau berbuat dengan dukungan sumber daya cukup, bahkan memadai, tapi tidak mencapai targetnya, itu pun pekerjaan yang sia-sia.

Sebagian orang lebih cenderung santai, tidak fokus, malas, dan menunda-nunda bekerja dengan maksimal. Sehingga pekerjaan dan hasilnya yang diinginkan itu jadi sia-sia. Sebagian lagi memberikan pengorbanan dalam berusaha dan bekerja, tapi senatas dalam kesempatan tertentu, sedangkan pada kesempatan selanjutnya pekerjaan itu berhenti. Padahal yang sangat diperlukan ialah konsistensi dan kontinuitas. Ini juga merupakan suatu pengorbanan yang sia-sia. Masih banyak contoh lainnya yang serupa.

Hari ini kita diajarkan untuk mengatasi semua pekerjaan atau pengorbanan yang sia-sia itu dengan suatu pengorbanan yang bijaksana. Suatu pengorbanan yang bijaksana itu menuntut kita untuk fokus kepada tujuan tertinggi yang hendak dicapai. Segala pengorbanan kita hanya untuk mencapai tujuan itu. Bagi kita orang beriman dan para pengikut Kristus, tujuan kita yang terutama dan utama, ialah Kerajaan Allah. Raja Salomo meminta kebijaksanaan dari Kerajaan itu dan Allah memberikan itu kepadanya.

Kita sebagai pengikut Kristus terpanggil untuk tujuan yang tertinggi itu. Marilah kita berkorban dengan sekuat daya dan usaha untuk mencapainya.

“Ya, Allah, pandang dan berkatilah kami, sehingga dengan perayaan hari Minggu ini kami jadi anak-anak-Mu yang tekun dalam jalan menuju kepada-Mu. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)