Kelana Kampung dan Kota -97
Simply da Flores
Balada Anak Negeri

1.
Getir Galau Nasib Bangsa
Sejarah menulis kata-kata
tetapi ada fakta berbeda
Penguasa melukis wajah selera
dalam janji dan korupsi
demi kenikmatan dan gengsi pribadi
Sedangkan
rakyat sahaja mencatat fakta
lara derita nasib bangsa
Wajah tanah air hancur
dicakar proyek tambang perkebunan dan ambisi
Harkat martabat pribadi terkoyak
menjelma jadi serpihan puing
lantaran hukum hanya jeruji penindasan
Pembangunan mengisinya kemerdekaan hanya perampokan legal
Kemerdekaan hanya kata hampa makna
bangsa dijajah sesama saudara
Puing-puing makna merana galau
Serpihan cita dan harkat terkapar bisu
Aneka perjuangan dan doa merana
lara derita bangsa terus mendera
Entah ke mana harus bertanya
Entah sampai kapan ada jawabannya
Entah…
ke mana bangsa dan NKRI berkelana
2.
Antara Fakta dan Tanya
Seperti tanjung dan teluk
kita tak tahu pelukisnya
dan mengapa wajahnya bereinkarnasi abadi
pada selera dan akal generasi
Seperti jumlah ombak gelombang
tak pernah ada yang tahu jumlahnya
Termasuk pasir yang selalu dicakar tubuhnya
Lalu…
Nelayan memetik dawai lautan
datang bertanya pada Bunda samudera
karena yakin ada rezeki di sana
Lalu…
seniman tumpahkan jiwa raga
pada dawai bisu jadi nada
pada kertas dan bahasa jadi cerita
Kita juga menatap angkasa
Melukis damba, marah dan tanya
Menulis air mata dan tawa ceria
Entah jadi awan, pelangi atau purnama
Entah dibaca dan dikagumi sesama
Entah berlalu dengan waktu
Entah ke mana terbawa angin
Pada mata pagi bercahaya
bahasa menumpahkan seribu harapan
Pada wajah senja mempesona
suara menitipkan sejuta kepasrahan
Pada gulita malam penuh rahasia
Jiwa raga terkulai seperti kanvas bisu
agar ditulis angkasa dengan mantra
agar dilukis samudra dengan makna
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.