Kelana Kampung dan Kota -95
Simply da Flores
Goresan Rindu Damba

1.
Puing Damba dan Serpihan RIndu
Pada halaman buih ombak
yang dibuka jemari senja
ada goresan kata-kata indah
tentang serpihan rindu yang galau
Pada lembaran debu galau
yang dibelai telapak purnama
Ada tulisan ayat mempesona
tentang puing damba yang meraja
Serpihan rindu dan puing damba
tertiup angin terus berkelana
tak peduli pada terang siang
tak kenal pada gulita malam
dalam ziarah jiwa raga manusia
Adakah purnama bisa menjawab serpihan rindu
Mungkinkah ombak mampu melukis puing damba
Sehingga jiwa raga meraih makna
2.
Menyepi di Pelataran Malam
Tidak seperti biasanya suasana malam
kendaraan sepi sunyi di jalanan
jarang ada orang yang lalu lalang
Entah karena gejolak ekonomi menerjang
atau lagi ramai pergi nonton bareng
Hanya pijar lampu menyapu trotoar
dan bangku kosong yang galau getir
Aku datang memanen sunyi sepi
raga ditemani nyamuk yang berdendang
pikiran melayang bersama asap terbang
Dari dalam taman Tugu Proklamasi kemerdekaan
dua ekor kucing gontai berjalan
dan berhenti di samping bangku
Tatapan mereka kisahkan damba dan rindu
seharian belum mendapat makanan
anak-anaknya galau merana di persembunyian
Sedangkan beberapa tikus hilir mudik kegirangan
bahkan sempat lemparkan ejekan
padaku dan dua kucing yang kelaparan
Menyepi memburu hening dalam gulita
adakah seperti bangku trotoar metropolitan
Diam berkelana meraih damba
apakah seperti asap terbang ke angkasa
Dalam derap langkah waktu berlari
suka duka silih berganti
sebagai pengalaman fakta dan misteri
Pikiran sering bergulat dalam tanya mencari
harapan jawaban sejati bagi hati nurani
Rindukan secercah cahaya bagi jiwa sanubari
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.