Sebuah Refleksi Psikologis:
Pada Sepenggal Tulisan Tangan

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Dalam kebingungan, aku hanya mau bertanya, aku hendak dikemanakan?”
(Suara Anak Kecil)
Suasana Pagi: Dari Sebuah Ekspresi Fakta Kebingnyan Khas Anak Kecil
“Ayah Bunda, Aku ini Hendak Ke manakah?”
Seorang anak kecil, yang baru saja lulus dari bangku Sekolah Dasar (SD), sempat meluapkan emosinya dengan menuliskan sepenggal kalimat di atas sehelai daun pintu rumah. Ia justru sedang berada dalam kebingungan, bahwa akan ke manakah ia selanjutnya, apakah ia akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ataukah cukup di situ saja langkah kakinya akan terhenti?”
Ratapan Psikologis: Antara Fakta dan Realitas
Sekalipun ia masih sangat kecil (muda, kuncup belia), tapi jiwa mungilnya telah sanggup mengembara mengitari seluruh realitas pahit pedih di dalam kungkungan keluarga kecilnya.
Ia, kuncup beliau itu, sungguh tahu dan sadar, bahwa untuk sekadar uang jajan harian saja, ia tidak pernah mempunyai. Ia sudah sangat lama menyimpan rahasia hidup, yakni mananggung rasa malu dan minder di hadapan rekan-rekan sekelasnya.
Dari manakah biaya untuk membeli sarana peralatan sekolahnya? Dari manakah ia akan mendapatkan sedikit uang demi ongkos angkot kota yang selalu sibuk berseliweran di samping gubugnya? Kini ia sungguh sadar dan sekadar mau bertanya, sebelum tahun ajaran baru itu tiba di ambang pintu kesadarannya.
Konkretisasi: Sebuah Mimpi vs Realitas Kehampaan
Seorang anak kecil, janganlah sekali-kali diremehkan, soal daya juang pergulatan nuraninya. Walaupun masih kecil muatan isi kepalanya, tapi yakinlah, sungguh, betapa luas dan dalamnya intuisi dan harapan psikologisnya.
Bukankah secara psikologis setiap orang bebas untuk mengembara di dalam hatinya yang sedang bergelora bagaikan samudra itu?
Di suatu saat kelak, yakinlah, ia akan melabuhkan seluruh gairah gelora jiwa mungilnya, karena ia sungguh sadar, bahwa lengan perkasa Ayah dan gelora nurani Bundanya tak sanggup mendayung biduknya lebih jauh lagi demi melampaui samudra biru (sebuah reallitas kehampaan).
Kerinduan yang Terkubur: Ratapan untuk Selamanya
Banyak rasa duka derita yang hanya tersimpan dan berkelebat di dada dan hati anak-anak kecil yang justru berakhir di dalam sebuah lubang kuburan (kekalahan), karena kemiskinan (kehampaan).
“Pada Sepenggal Tulisan Tangan Seorang Anak Kecil,” tamatan SD ini adalah sebuah ratapan paling sendu di tengah guliran abad yang pongah dan angkuh membusungkan dada, karena kecanggihan teknologinya. Tapi…
Di dalam dan di balik sana, justru tidak sedikit anak manusia yang sangat awal, justru telah jatuh terkapar, karena kalah duluan sebelum mereka sempat bertarung di gelanggang perjuangan.
Apalagi, jika kedua orangtuanya itu memang tidak mempunyai kantong berhala dan sembahan untuk sekadar bermain dadu sambil bermain mata di atas meja judi kehidupan. Ketahuilah, bahwa sikap mereka terlampau polos dan jujur. Takut, nanti tidak masuk Surga, katanya.
“Pada Sepotong Tulisan Tangan Seorang Anak” adalah sebuah ratapan sendu, karena serba ketiadaan!
Refleksi Akhir
“Barang siapa menyebabkan seorang anak kecil ini jatuh ke dalam kebinasaan, lebih baik sekarung pasir dililitkan ke lehernya dan dicampakkan ke dasar samudra,” sebuah seruan dari Sang Kebijaksanaan.
Kediri, 19 Juli 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.