Musuh Memberikan Kita Kesempatan

Seorang siswa SMA mendapatkan pujian dan hadiah dari orangtuanya, karena mendapatkan nilai rapor yang bagus. Padahal semua anggota keluarga masih mengingat, bahwa nilai prestasinya di waktu permulaan sekolah jauh dari harapan. Ia bahkan memiliki sejumlah nilai merah.
Mengapa ia berubah cepat dengan prestasinya itu setelah naik kelas dua dan kelas tiga? Apakah ia bermain curang pada waktu ujian demi mendapatkan nilai-nilai yang memuaskan? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan umum yang selalu ditujukan kepadanya. Kepada semua yang bertanya, siswa tersebut menjawab dengan sangat bijaksana, katanya: “Setiap temanku mendapat nilai lebih baik daripada aku, aku selalu tertantang untuk jadi seperti dia, bahkan harus melebihi dia.” Ia tetap mengikuti prinsip itu selama belajar di SMA.
Pengalaman remaja itu merupakan sebuah contoh kompetisi yang sehat. Ada juga kompetisi atau perlawanan yang tidak sehat, yang melalui cara yang tidak baik dan dengan tujuan yang tidak baik pula. Di dalam setiap kompetisi, masing-masing pihak yang bersaing menganggap lawannya sebagai musuh. Ada musuh yang jadi teman persaingan atau perjuangan, sehingga kita dapat dibantu untuk meraih kemajuan dan kesuksesan. Musuh dalam kualitas seperti ini adalah musuh yang baik, yang memberikan kita kesempatan untuk jadi lebih baik.
Ada musuh yang jadi lawan mematikan, yang karena didasari oleh kebencian, marah, dan iri hati, sehingga kita tidak mendapatkan bantuan untuk maju, tapi sebaliknya kerugian dan bahkan kebinasaan. Secara kodrati dan mengikuti akal sehat, kita ingin memiliki musuh yang baik. Tuhan sendiri termasuk dalam kategori musuh kita yang baik. Kita adalah orang-orang yang berdosa. Setiap menyadari diri sebagai orang berdosa, kita harus dapat melihat Tuhan sebagai musuh kita yang baik, yang sabar terhadap kita dan menyediakan segala kesempatan, supaya kita dapat bertobat dan kembali kepada-Nya.
Perumpamaan tentang hidup berdampingan antara penabur benih dan musuhnya yaitu penabur lalang, kemudian antara benih yang tumbuh bersama dengan musuhnya lalang itu sangat jelas mengajarkan kita tentang peran musuh yang membantu kita di dalam hidup ini. Anggota keluarga sendiri, teman atau orang yang tidak kita kenal dapat jadi musuh-yang baik. Bahkan, jika kita memang tidak dapat menghindari adanya musuh yang tidak baik atau yang mematikan, ini merupakan juga pengalaman Tuhan Yesus sendiri dan para Martir yang sudah mendahului kita. Musuh yang demikian membuka kesempatan bagi kita untuk meminum piala penderitaan seperti Yesus Kristus. Dalam hal ini, kita sepantasnya bersyukur dan mendoakan musuh-musuh kita.
“Ya, Tuhan, berkatilah kami agar dapat hidup dalam kebenaran dan kebijaksanaan-Mu. Semoga kami jadi sesama yang baik bagi orang-orang di sekitar kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)