Berani Realistis

“Aneh, tapi konyol! Kita ingin mengubah dunia, tapi lupa untuk berubah sendiri.” -Mas Redjo

Tidak harus mengawang-awang dan hidup muluk-muluk untuk mengubah dunia, sehingga melupakan dunia kecil kita: dimulai dari perubahan diri ini, keluarga, dan lingkungan di sekitar.

Berani realitis, karena saya sadar diri. Jujur, saya bukan pribadi yang hebat dan ambisius, melainkan pribadi sederhana dan realistis.

Bagi saya, semangat perubahan itu dimulai dari lingkup yang terkecil: keluarga!

Untuk mengubah dunia itu hal yang mustahil. Tapi saya dapat memulai perubahan itu dari diri sendiri, lalu memberi contoh teladan kebaikan itu dalam keluarga, pada anak-anak saya.

Membangun rumah tangga yang bahagia itu fondasinya adalah semangat peduli, berempati, dan cepat tanggap agar kesempatan itu dapat segera diwujudnyatakan.

Tidak menunda, tapi harus dihidupi agar jadi kebiasaan yang baik dan disiplin. Tidak dengan berjuta kata nasihat, tapi memberi contoh, dan realistis.

Kita mengedukasi anak itu tidak dengan hal-hal yang hebat dan mengawang-awang, tapi melalui hal-hal kecil dan sederhana untuk menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab pada diri sendiri.

Kita mengajari dan mendisiplinkan anak, di antaranya dengan etika, sopan santun, menghormati orang yang lebih tua, budaya antri, tertib, dan taat peraturan.

Sekali lagi mengubah dunia adalah hal yang mustahil. Tapi dengan semangat memperbaharui diri, kita tidak kehilangan jatidiri dalam menyongsong kemajuan zaman.

Mas Redjo