Kelana Kampung dan Kota -92
Simply da Flores
Antara Imajinasi dan Iseng

1.
Mengukir Bebas – Merdeka

Kepak sayap dambaku
menyibak awan menerjang angin
agar meraih cahaya angkasa
Memetik berkas mentari di rasa dan angan

Derap langkah kaki berlari
menyibak misteri hutan belantara
melintasi padang savana problema
Meraih asa di pelataran nalar dan nurani

Jemari tangan lincah menari
menerjang gelombang merobek samudra
mencari pelabuhan cita-cita
Temukan sejuta makna sanubari jiwa

Aku engkau dan dia
Kita bisa terbang tinggi
Kita mampu berlari jauh
Kita terus lincah mencari
Kita ada dan terus menjadi
Kita adalah binatang jalang
dengan nalar meraih bebas merdeka
dengan sadari fakta jiwa raga

2.
Menghitung Nafasku

Sudah berkali-kali
aku coba menghitung desah nafasku
tetapi belum bisa mendapat jumlahnya
mungkin karena raga harus tertidur
Lalu,
Aku coba saja menduga
dengan sarana hitungan yang tersedia
Juga tak bisa temukan pasti jumlahnya

Dalam hening sunyi sendiri
Aku tanya pada udara
juga meminta alat pernafasan diri
Bisakah membantu temukan jumlah desah nafasku
sesuai umur yang telah aku jalani
Ternyata…
hanya diam sunyi dalam imajinasi

Aku sujud memohon Sang Ilahi
Berikan aku kata untuk menghitung udara
Tunjukkan aku angka untuk menjumlahkan desah nafas
Karena aku percaya
Engkaulah udara itu
Karena aku yakin
Hadirmu dalam desah nafas itu

Dalam diam imajinasi itu
aku tersipu malu pada diriku
sadari jumlah terima kasih yang sangat sedikit
Dalam sunyi iseng itu
aku sujud tak berdaya
ternyata sangat jarang bersyukur atas nafasku
Juga kepada alat pernafasan dan udara