Mengenali Tuhan dengan Nama-Nya

Seorang bocah berusia sepuluh tahun bernama Bastian, menulis surat kepada Tuhan. Ia sudah banyak kali berdoa dengan lisan untuk menanyakan apa sebenarnya nama Tuhan, seperti dirinya yang bernama Bastian. Karena tidak menemukan jawaban, maka ia menulis surat itu. Isi surat seperti ini: “Tuhan Allah, seperti Putra-Mu yang bernama Yesus Kristus, sebenarnya Tuhan sendiri bernama apa?” Ia menaruh surat itu di kaki salib di dalam Gereja.

Pastor Paroki menemukan surat itu pada suatu pagi. Diambilnya surat itu dan ia menulis di bawah tulisan Bastian, bunyinya ialah: “Nama Tuhan Allah ialah ‘AKU’. Ini memang bukan jawaban langsung dari Tuhan, tapi Pastor Paroki memberikan jawaban yang sesungguhnya, seperti yang dikatakan di dalam Kitab Kejadian. Kemudian pada saat Bastian dan keluarganya datang ke Gereja, bocah itu mengambil suratnya dan menemukan jawaban yang sedang ia tunggu.

Allah menyebut nama-Nya “AKU” berarti, bahwa Ia sempurna, total dan abadi. Untuk nama “AKU” tersebut, hanya Tuhan yang bisa menegaskan demikian, karena Ia Maha Esa dan Maha Kuasa. Dengan keunggulan-Nya seperti ini, Nabi Musa di dalam Perjanjian Lama dan kita semua pada saat ini diberkati dengan keunggulan yang istimewa. Tuhan tidak mementingkan diri-Nya sendiri, tapi Ia senantiasa berbagi dengan kita, khususnya melibatkan diri-Nya dengan kita dan kita dengan Dia, melalui Yesus Kristus.

Kita diharapkan untuk membawa keunggulan Ilahi tersebut untuk menghadapi musuh-musuh yang jahat dan yang melawan kehendak Allah, bahkan sampai mengalahkan musuh-musuh itu. Jika kita hanya memakai kekuatan dan ego sendiri sebagai manusia, kita pasti sangat lemah, ketika berhadapan dengan kompleksitas pekerjaan, aneka tantangan, atau ancaman musuh-musuh. Dengan memakai identitas “Aku” dari Tuhan Allah, kita akan selalu dimampukan oleh Dia dan kita dapat berhasil melewati semua ancaman dan kesulitan.

Yesus Kristus menegaskan hal ini, ketika Ia selalu berkata: Aku berkata kepadamu. Yesus menyatakan nama Allah sendiri dalam bersabda dan berbuat. Yesus tak pernah menyebut dirinya sendiri, seperti: “Yesus berkata kepadamu”. Penegasan “Aku” untuk diri-Nya ini, juga berarti hendak membawa semua orang yang mendengar dan percaya, datang kepada-Nya, tinggal bersama-Nya dan menghayati cara hidup-Nya. Pada hari ini Yesus mengajak kita untuk datang kepada-Nya untuk menimba kekayaan belas kasih-Nya. “Datanglah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.”

Marilah kita selalu percaya dan mengandalkan nama Tuhan sebagai AKU.

“Ya, Allah yang Maha Baik, terima kasih berlimpah, karena Engkau menunjukkan kepada kami diri-Mu sebagai pribadi, semoga kami selalu mengandalkan ke-esa-an dan kekuasaan-Mu. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)