Kelana Kampung dan Kota -91
Simply da Flores
Pulang ke Kampung Halamanku

1.
Aku pulang kampung
setelah sembilan purnama berlalu
pergi berkelana mengejar pelangi di tanah rantau
Aku bawa segenggam rindu
pada sosok sanak keluarga yang menulis halaman memori
Aku pikul ransel tua harapan
akan jejak nostalgia wajah ceria kampung halaman
Ternyata…
aku tersentak pada gebyar cahaya kreasi zaman
Ada dinamika, kreasi dan inovasi
arus perubahan modern deras melanda
Bahkan aku jadi orang asing di kampung sendiri
yang menggugat akan lumbung relasi pribadi

2.
Banyak wajah yang pergi bersama senja kemarin
Ada sosok yang menjelma pada kubur dan batu nisan
Maka,
kisah cerita tak mampu membalut rindu
yang tersapu cahaya lampu listrik dan gadget
Sedangkan…
Wajah kampung dan jalan setapak menuju kebun ladang
kini menjelma pada beton rabat kokoh
sarana baru kemajuan hasil pembangunan desa
Banyak pohon, batu dan sungai berubah rupa
bahkan banyak yang telah sirna
seperti jejak sejarah yang juga punah
Generasi milenial telah berkreasi menulis kisah
dengan gaya seperti yang terjadi di kota

3.
Aku pergi tinggalkan kampung halaman
ketika masih jalan setapak dan belum ada listrik
Masih ada sesepuh tokoh adat budaya
ada atmosfir sakral magis merangkul
di mana manusia dan alam harmoni
dalam energi Sang Ibu Bumi dan Bapa Langit
Ternyata…
Seratus musim silih berganti
menulis kreasi kisah
Seribu perubahan sudah merangkai inovasi cerita
Banyak anak cucu yang tak lagi saling mengenal
ketika bertemu ada ragu dan terasa asing
bahkan tanpa ikatan rindu tersisa
Sehingga rindu dambaku menjelma jadi tanya

4.
Ketika coba melangkah keliling kampung
dan coba menelusuri jalan setapak ke kebun ladang
sepertinya memang banyak yang hilang dan berubah
Udara segar dan alam sakral berubah
deru mesin kendaraan dan bunyi sarana modern bergema
Mungkin juga rasa dan makna
sebagai sanak keluarga
perlahan sirna hanya kata dan angka
Inilah dinamika perubahan dan fakta
ketika pulang ke kampung halaman
setelah sekian waktu berkelana di tanah rantau
Mencatat rindu nostalgia menjelma dalam tanya
Menulis damba memori dalam diam hampa
Kemarin adalah kenangan dan sejarah
Hari ini adalah kenyataan ada dan terjadi