Hati yang Diubah oleh Kerahiman Tuhan

“Mukjizat yang terbesar itu bukan ketika Tuhan mengubah keadaan kita, melainkan ketika Ia mengubah hati kita.”
Allah yang Maha Rahim, Putra-Mu mengucapkan kata-kata yang keras, tapi lahir dari hati yang penuh kasih.
Yesus mengecam Korazin, Betsaida, dan Kapernaum itu bukan karena Ia berhenti mengasihi mereka, melainkan justru karena mereka sangat dikasihi. Mereka telah melihat banyak mukjizat, mengalami belas kasih-Nya, bahkan menyaksikan sendiri kuasa Allah. Tapi banyak di antara mereka hanya mengagumi mukjizat tanpa membiarkan mukjizat itu mengubah hati mereka.
Bapa, sering kali aku seperti mereka. Aku terbiasa dengan berkat-Mu, sehingga kehilangan rasa syukur. Aku menerima belas kasih-Mu, tapi menunda pertobatan. Aku mendengarkan Sabda-Mu, menghadiri Ekaristi, bahkan mengalami jawaban atas doa-doaku, tapi masih mempertahankan kesombongan, kenyamanan, atau dosa yang tidak mau kulepaskan.
Engkau mengingatkanku, bahwa setiap rahmat adalah sebuah panggilan. Makin banyak yang kuterima, kian besar undangan-Mu agar aku semakin menyerupai Yesus. Mukjizat itu bukan hanya untuk membuatku kagum, melainkan untuk mengubah hidupku.
Melalui Nabi Yesaya, Engkau berkata, “Jika kamu tidak teguh beriman, kamu tidak akan teguh berdiri.” Ajarlah aku menaruh kepercayaanku bukan pada rencanaku sendiri, melainkan kepada-Mu. Hanya Engkaulah Batu Karang yang tetap kokoh, ketika segala sesuatu di sekelilingku berubah.
Ampunilah aku setiap kali mengabaikan suara-Mu, menolak rahmat-Mu, atau menunda pertobatan. Ampunilah kesombongan, kemalasan rohaniku, dan keinginanku untuk hidup nyaman tanpa sungguh-sungguh mengikuti Kristus.
Aku memilih untuk kembali kepada-Mu agar setiap rahmat yang kuterima itu membawaku semakin dekat kepada-Mu, bukan menjauh dari-Mu. Ubah hatiku agar hidupku jadi kesaksian akan belas kasih-Mu.
Semoga kami yang telah menerima begitu banyak rahmat tidak pernah menganggap kasih-Mu sebagai sesuatu yang biasa, tapi menanggapinya dengan iman yang teguh, hati yang rendah, ketaatan yang penuh sukacita, dan pertobatan yang tulus.
Aku menyerahkan seluruh hidupku ke dalam belas kasih-Mu yang tak berkesudahan, demi Sengsara Yesus Kristus, Raja Kerahiman Ilahi.
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.