Terima Kasih, Tuhan

“Berkat Tuhan terus berkelimpahan, saat hidup jadi berkat.” -Rio, Scj
Seorang pria kaya melihat seorang pengemis di jalan, dan dia berkata: “Terima kasih, Tuhan untung saya tidak miskin.” Pengemis itu melihat orang gila sedang ke sana kemari tanpa pakaian dan dia berkata, “Terima kasih, Tuhan untung saya tidak gila.” Sementara orang gila itu melihat ada orang sakit dibawa pakai ambulans dan dia berkata: “Terima kasih, Tuhan untung saya sakit.” Di RS, orang sakit ini melihat ada orang yang meninggal dan dia berkata: “Terima kasih, Tuhan untung saya masih hidup.” Sementara orang yang sudah meninggal itu diam membujur kaku.
Ingat hanya orang mati yang tidak bisa mengatakan: “Terima kasih, Tuhan.” Kenapa saat semua masih bisa kita lakukan kadang kita lupa, atau sengaja melupakan syukur. Bukankah hidup kita itu amat berharga? Bukankah kasih Tuhan tidak pernah berhenti untuk kita, meski kita banyak dosa? Bukankah Tuhan selalu menolong, meski kita tidak mempunyai rasa terima kasih?
Sebelum Tuhan memanggil dan tubuh kita ini membujur kaku, bersyukurlah, berterimakasihlah dan rayakanlah hidup kita. Jangan sia-siakan saat waktu masih Tuhan sediakan. Hidup ini bukan soal siapa menang, siapa cepat, melainkan soal bersyukur dan jadi berkat. Hidup bukan soal membandingkan, melainkan pertandingan sampai akhir untuk menang di dalam Tuhan. Hidup ini bukan soal mempunyai banyaknya pundi-pundi uang, melainkan soal keselamatan abadi bersama Tuhan.
Terima kasih, Tuhan.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.