Jangan Sampai Hidup ini Sia-Sia

Ada suatu kejadian yang cukup mengagetkan di sebuah wilayah pemukiman kota. Para suami mulai terbiasa berkumpul sampai tengah malam, dari satu rumah ke rumah yang lain. Biasanya mereka minum minuman beralkohol, berjudi, dan menghabiskan waktu di situ. Hal ini membuat para istri di rumahnya masing-masing semakin gelisah dan marah.

Para istri itu berkumpul dan ingin melakukan sebuah gerakan protes. Mereka mendapat restu dari semua warga di situ dan bersama-sama pergi ke tempat suami mereka berkumpul. Mereka membawa spanduk dengan tulisan besar: “Jangan Membuat Hidup Keluarga Sia-sia.” Mereka juga berteriak bersama-sama: “Suamiku, kembali ke rumah. Jangan membuat hidup keluarga sia-sia.” Atas desakkan para istri tersebut, pihak pemerintah setempat dengan paksa membubarkan aktivitas itu dan dilarang untuk terulang kembali.

Tuhan tidak pernah merencanakan kehidupan kita yang sia-sia. Kitalah yang selalu membuatnya sia-sia. Kelemahan kita sebagai manusia yang ditambah dengan pengaruh-pengaruh buruk di dunia itu selalu jadi ancaman tanpa henti yang membuat hidup kita pribadi atau bersama tidak berguna dan tidak bermakna. Itu berarti kita menyerah untuk dikuasai kelemahan kita sendiri dan pengaruh-pengaruh jahat dari luar.

Kita dapat menyebutkan sifat-sifat itu manusiawi, seperti malas, malu, bosan, menyerah dan kurang percaya diri itu sangat memberi kontribusi besar bagi kehidupan yang sia-sia. Jika seseorang sampai pada saat ajalnya, hanya dikenal oleh orang-orang sekitar sebagai pemalas, pengacau, penjahat dan beban bagi orang lain, ini merupakan sebuah kehidupan yang sia-sia. Jika seseorang yang sampai mati tidak dapat menyelesaikan masalah-masalah yang menyiksa diri: jasmani dan rohani, berarti ia mengalami kesia-siaan dalam hidupnya.

Nasihat penting untuk kita, yaitu agar jangan sampai hidup ini sia-sia, hanya karena sikap hidup kita yang kurang teratur atau tidak disiplin. Tuhan menghendaki agar kita disiplin dalam menghayati iman, yaitu kita tidak boleh memandang remeh atau santai dengan ajaran dan perintah-perintah-Nya.

Kita harus memandangnya begitu penting untuk dijalani dengan serius. Simbol yang dipakai oleh Yesus ialah hati kita yang harus jadi tanah subur, sehingga firman yang ditanam dapat tumbuh. Hujan rahmat yang diturunkan oleh-Nya menumbuhkan hidup kita sehingga dapat berbuah melimpah. Sedang kehidupan yang sia-sia adalah tanda iman yang rapuh dan dangkal.

“Ya, Yesus, semoga Firman-Mu yang diwartakan, tumbuh di dalam diri kami dengan subur dan berbuah dalam kasih dan kebaikan. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)