Mengendalikan Kehendak Bebas

“Kendalikan pikiran ini selaras suara hati untuk menikmati hidup damai sejahtera dan bahagia.” -Mas Redjo

Selalu mendisiplinkan diri berpikir hal-hal baik dan positif adalah cara saya mengendalikan kehendak bebas agar tidak meliar salah arah, dan menjerumuskan saya ke jurang derita.

Ketika menuruti kehendak bebas demi ego, hati ini tiada tenang dan damai. Saya gelisah, was-was, dan sering dikejar ketakutan tanpa alasan.

Pengalaman lain yang membuat jiwa ini serasa kering dan hambar adalah, ketika orientasi hidup saya terpatri pada pencapaian target, materi, pengakuan, dan validasi. Saya seperti diuber-uber waktu, bahkan seperti tidak mempunyai waktu, karena hilang kepedulian untuk keluarga, teristimewa untuk Tuhan.

Saya diingatkan dan sadar, dengan kisah sahabat, YB yang hidupnya bersahaja, wajah cerah sumringah, dan kaya harta surgawi.

“Ketika terpisah dari Tuhan, kita jadi lemah. Kita jadi kuat, ketika bersatu dengan-Nya dalam Ekaristi, doa, bermeditasi, membaca KS dan melaksanakannya.”

Dari YB, saya memperoleh lebih sekadar disadarkan, bahkan jadi termotivasi melihat keluarga YB yang guyup rukun dan bahagia.

Motivasi dan orientasi saya makin kuat, ketika memulai berpikir hal-hal baik dan positif. Hasilnya adalah hati ini jadi tenang dan pikiran jernih, baik dalam bersikap maupun berperilaku.

Lebih dahsyat lagi adalah, ketika saya mulai intens dalam berdoa, bermeditasi, dan membaca buku-buku rohani maupun Kitab Suci.

Ternyata, kehendak bebas yang dianugerahkan Allah pada kita itu merunjuk pada penyelarasan sempurna antara kehendak manusia dan kehendak Ilahi-Nya. Bahkan puncak dari kehendak bebas itu terlihat jelas dalam doa Yesus di Taman Getsemani (Matius 26: 39): “Ya, Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

“Manunggaling kawula Gusti, sumonggo Gusti.”

Mas Redjo