Kelana Kampung dan Kota -85
Simply da Flores
Ketika Rindu itu…

Ketika rindu itu bertanya
Pikiran coba berlari ribuan langkah
Menerjang gulita malam menerobos angin
mencari apa dan siapa jawabannya
Bergulat meraih jarak yang tak terjangkau
karena yakin mampu temukan jawaban
Rindu itu sering datang seperti pencuri dan angin
Ketika rindu itu menggugat
Jemari tangan mencabik-cabik waktu
Telapak kaki berjibaku merengkuh ruang
Agar bisa temukan sosok dan wajah
yang bisa menjawab tanpa kata
Padahal gugatan rindu tak mesti ditanggapi
Gejolak rindu sering sirna dengan diam sunyi
Bukan bersembunyi atau berlari pergi
Ketika rindu itu bergelora
Ombak dari tujuh laut dan gelombang dari delapan samudra
Mendera raga dan menyiksa rasa
seperti pasir pantai yang tak berdaya
Siang malam tak mampu lari mengindari
dinamika hukum alam yang terjadi
Rindu itu bukan kejahatan untuk dihindari atau dimusuhi
Ketika rindu itu mengamuk
angin badai menyapu hati nurani
petir kilat menyambar jiwa sanubari
Paksakan misteri menjelma jadi fakta sahaja
terkulai di hadapan kehendak jiwa raga
Meskipun pengalaman sering berbeda kenyataannya
Ketika rindu itu resah dan gelisah
Daun-daun hijau mengayun tertiup angin
Helai yang kuning dan kering gugur
karena tak mampu berlari mengindari angin yang datang
tanpa wajah dan topeng untuk mata
Hanya ada dan terjadi bisa dirasakan dan dialami
Banyak rindu itu misteri bagi sepi yang miskin papa
Ketika rindu itu dipeluk erat
dalam senyum diam tanpa gugatan
Pagi dan senja penuh pesona menggoda
Terik mentari dan gulita malam begitu akrab mesra
Karena jawaban rindu hadir tanpa dicari
seperti embun datang tak diundang rumput dan pergi tak diusir dedaunan
Rindu dan jawabannya ada di sini dan bukan di sana
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.