Menerima dengan Cuma-cuma, Memberi juga Cuma-cuma

Seorang bocah kelas 5 SD bertanya kepada Ibunya: “Ma, mana yang duluan, memberi atau menerima?” Ibunya langsung menjawab, “Yang jelas memberi.”

“Kalau begitu berikan aku uang untuk membeli mainan,” kata anak itu.

Kita semua sepatutnya setuju, bahwa memberi memang yang pertama, karena hal ini adalah tindakan Tuhan terhadap kita. Hidup kita sebagai manusia dan karunia iman yang kita miliki adalah pemberian Tuhan.

Di dalam Injil, tugas perutusan Yesus kepada para Rasul ialah untuk memberi, yaitu membawa nama Yesus kepada setiap orang dan menghadirkan Kerajaan-Nya untuk menyejahterakan jiwa dan raga mereka. Pesan Yesus kepada mereka: “Kalian telah menerima semua dari-Ku sebagai karunia cuma-cuma. Ketika kalian memberikan semua itu, juga harus dengan cuma-cuma.” Contoh, para Rasul mendapatkan pengetahuan tentang Allah dan rahasia-Nya secara gratis, maka mereka hendaknya mewartakan itu dengan gratis pula. Mereka tidak boleh mengambil keuntungan apa pun dalam kegiatan pewartaan itu.

Rahmat dan karunia yang gratis ini sejak dahulu, sebelum zaman para Rasul, telah dialami oleh bangsa Israel yang mendapat perbuatan baik Allah yang membela, memelihara dan membesarkan mereka. Bahkan, menurut Nabi Amos, ketika bangsa ini sangat menderita sebagai tawanan di Babel, Tuhan Allah juga berbelas kasih kepada mereka. Tuhan mengangkat semua bentuk hukuman kepada mereka dan kembali mengasihaninya. Mereka harus mengikuti contoh dari Tuhan untuk berbuat baik pertama-tama di antara mereka, lalu kepada bangsa-bangsa lain.

Menerima secara cuma-cuma dan memberi juga cuma-cuma merupakan cara kita meniru Tuhan Yesus. Kita juga meniru Bunda Maria, Santo Yusuf, para Rasul, Santo Paulus, Yohanes Pembaptis dan semua orang kudus lainnya. Orangtua kita sendiri juga telah menjalani gaya hidup ini. Mereka memberikan segala sesuatu demi kita dan tidak pernah meminta balasan atau bayaran. Justru yang sangat tidak terpuji ialah, jika ada anak-anak yang mestinya membalas orangtua dengan menyenangkan, tapi sebaliknya menyusahkan, bahkan menyakiti, sampai kematian mereka.

Pesan bijaksana pada kita adalah, hendaknya kita tetap dalam jalan Yesus Kristus, yaitu kita telah menerima begitu banyak dan cuma-cuma dari mana pun serta siapa pun, maka kita harus memberi dengan cuma-cuma pula. Jangan sampai terjadi, kita hanya ingin diberi dan dilayani sesuai keinginan kita, sedang kita membatasi diri untuk memberi yang seharusnya dapat kita berikan kepada Tuhan dan sesama.

“Ya, Tuhan dan Allah kami, kuatkanlah kami dengan Roh-Mu, yaitu semangat dalam pelayanan yang tanpa pamrih, sehingga berkat-Mu jadi nyata bagi kami. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)