Menemukan yang Hilang

Pada suatu ketika kepala Setan menghadap Tuhan Allah. Ia mengajukan protes, bahwa setiap kali yang diutus ke dalam dunia ialah para Malaikat, kemudian para Nabi, dan puncaknya Putra Allah sendiri. Kepala Setan ini mendesak supaya dirinya atau wakil-wakilnya dapat diberikan juga kesempatan untuk diutus.

Tuhan Allah tetap tidak memenuhi tuntutan Setan. Alasannya, karena tugas utama Setan itu merusak dan menghilangkan yang jadi milik Tuhan, sedangkan tugas Tuhan dan para utusannya ialah menemukan manusia dan ciptaan Tuhan yang telah hilang. Yang jelas, dengan diberi kebebasan dan kesempatan, Setan akan jadi lebih menikmati tugasnya, dan membawa kerugian bagi Tuhan Allah sendiri.

Yesus Kristus adalah Tuhan dan Putra Allah yang mencari dan menemukan yang hilang. Tugas itu Ia lakukan selama pekerjaan publik-Nya. Tugas ini dilanjutkan oleh para Rasul yang diutus atas nama-Nya. Yesus berpesan agar mereka fokus kepada domba-domba yang hilang dari kalangan Israel. Yang mereka lakukan ialah semua perbuatan baik yang telah Yesus perbuat.

Apa yang diperintahkan oleh Tuhan kepada kedua belas Rasul ini terkait dengan kedua belas suku Israel. Mereka adalah umat pilihan yang menerima dan meneruskan ajaran Tuhan Allah bagi segenap umat manusia. Tapi mereka bukan penguasa segala kebenaran. Mereka dipilih untuk jadi pengantara perbuatan-perbuatan Tuhan Allah yang besar. Yesus Kristus adalah utusan Bapa Allah yang datang ke dunia melalui bangsa pilihan ini.

Tuhan Yesus ingin agar kedua belas Rasul itu dapat mewujudkan misi untuk menyatukan suku-suku Israel. Mereka harus memperkuat persekutuan yang lebih kuat sebagai satu bangsa yang diberkati Allah, bangsa pilihan-Nya. Yesus Kristus ingin menjadikan suatu persekutuan yang kuat, yang mengakarkan semua kebenaran dari Allah dan matang untuk melanjutkan misi itu ke seluruh dunia. Ini direalisasikan dengan berdirinya Gereja setelah Yesus naik ke Surga. Kini tugas Gereja ialah membuat Kristus dan Injil-Nya dikenal seluruh bangsa di dunia ini.

Warta gembira bagi kita ialah, hendaknya kita terlebih dahulu menjadikan diri ini kuat, matang, mampu, dan unggul sebagai pengikut Kristus, sebelum kita dapat membawa sesama atau saudara kita datang berjumpa dengan Tuhan. Kita tidak boleh seperti orang Farisi yang mampu mengajarkan dan berbicara, tapi membuat orang-orang jauh dari Tuhan. Kita harus berangkat dari diri sendiri, barulah kita mencapai dan membimbing orang lain.

“Ya, Tuhan Yesus Kristus, ajarilah kami untuk jadi teladan yang sesungguhnya bagi sesama di dalam kata dan perbuatan kami setiap hari. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)