Kelana Kampung dan Kota -81
Simply da Flores
Meraih Hakikat Kehidupan

1.
Seperti Bunyi, Suara, Melodi
Pada mulanya desah nafas
lalu menjelma dalam bunyi
Entah apa nama dan sebutannya
Mungkin hanya jeritan tanya
Mungkin juga pekikan merdeka
Mungkin pijar seruan misteri
Bunyi yang lahir dari kepolosan
Suara yang terlontar dari kebeningan
Misteri yang sedang berinkarnasi
Ada yang menyebut tangis
Ada yang katakan sapaan
Mungkin itu doa awal
Mungkin juga mantra doa pertama
Setiap kita yang terlahir dari rahim
Sejarah mewariskan kata bahasa
Ada ribuan bahasa manusia
Semuanya untuk berkomunikasi makna
mengatakan apa kepada siapa
Meskipun sering jadi hampa
tanpa rasa dan jiwa
Karena zaman mengagungkan selera
dengan aneka sandiwara dan sarana
Pada akhirnya juga hanya bunyi
mungkin dengan sebuah kata
ketika saat ziarah kelana purna
Ruang dan waktu menyimpan kisah cerita
meskipun raga harus punah sirna
Entah tersisa kata penuh makna
Entah tercatat hanya nostalgia hampa
2.
Memaknai Fakta Perbedaan
Datang terlahir…
Kita tidak pernah meminta
Pulang mati…
Kita tidak bisa membatalkan
Aku, engkau, kita
sejatinya bukan apa-apa
Aku, engkau, kita
hakikatnya bukan siapa-siapa
Aku, engkau, kita
faktanya terlahir sama dalam perbedaan
Pantaskah menilai dan mengadili orang lain
Waraskah memaksa sesama jadi seperti yang kita kehendaki
Haruskah menggugat untuk meniadakan kodrat asali
Mungkin…
yang waras dan bijak dilakukan
adalah berjuang berada dan jadi waras
Dengan syukur, terima kasih dan harmoni
selama masih diberi nafas hidup ini
Perbedaan…
Hakikatnya itu anugerah dan kekuatan
untuk saling berada dan menjadi
Syukur bisa bermanfaat bagi yang lain
Atau cuma sekurang-kurangnya
tidak jadi sumber masalah bagi yang lain
Adakah irama dan warna kehidupan
jika tanpa ada perbedaan?
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.