Kesembuhan Total

Ada seorang lelaki terkenal sebagai pengacau ulung di lingkungannya. Orang-orang takut kepadanya. Ia pemabuk, pengguna sekaligus pengedar narkoba sangat aktif dan bertindak brutal kepada orang yang menghalangi urusannya. Singkatnya, mental, moral dan imannya sudah sangat buruk.

Pihak polisi akhirnya berhasil melumpuhkan dia setelah terjadi tindakan kekerasan di wilayah itu dan ia sebagai tokoh utama kejadian itu. Kedua kakinya terkena tembakan peluru dan ia nyaris lumpuh total. Pada akhirnya ia melewatkan hari-hari, bulan-bulan dan tahun-tahun di penjara. Wilayahnya jadi aman dan damai tanpa dia.

Untuk kesekian kalinya lelaki ini dikunjungi pemimpin agamanya supaya ia memperoleh pembinaan rohani. Banyak sekali pengalaman rohani dan bimbingan moral yang ia peroleh selama di penjara. Semua itu membantunya untuk membuat hidupnya jadi baru. Perlahan-lahan perubahan itu terjadi. Setelah ke luar penjara, ia sungguh seorang pribadi yang baru. Fisiknya segar dan sehat, tutur kata, sopan santun, dan sikap hidupnya sangat baik. Pengetahuannya tentang kehidupan luas dan terbuka. Imannya tumbuh kembali.

Pengalaman lelaki ini merupakan contoh tentang kesembuhan total. Jenis kesembuhan ini yang diinginkan Yesus Kristus, yang meliputi fisik, mental, rohani, relasi sosial. Yesus mengetahui, bahwa orang yang disembuhkan itu penuh dengan dosa. Maka yang dilakukan-Nya pertama ialah menghapus dosa-dosanya dengan mengampuninya. Sesudah itu baru menyembuhkan dia dari sakit fisiknya dan memulihkan pikiran serta jiwanya.

Banyak di antara kita ingin sembuh sebagian, bukan total. Mungkin hanya mencari kesembuhan fisik atau mental tertentu, sementara kesembuhan diri secara total diabaikan. Seorang mungkin telah sembuh dari stres dan sakit hati, tapi ia masih dendam dan marah kepada orang yang telah mengecewakannya. Orang mungkin merasa nyaman setelah menerima Sakramen Tobat, tapi ia tidak menyesali perbuatannya. Sehingga ia jatuh kembali ke dosa-dosa yang sama. Semua ini menandakan kesembuhan yang hanya sebagian. Dengan demikian berarti mereka masih sakit.

Kita perlu menandai bagian-bagian mana di dalam tubuh kita yang belum disembuhkan, karena selama ini tidak diupayakan untuk sembuh. Bagian itu sangat mungkin jadi penghalang untuk terjadinya kesembuhan total di dalam diri ini. Kita memerikan perhatian ekstra pada bagian itu agar sembuh total.

“Ya, Bapa, jika ternyata masih ada bagian di dalam diri kami yang belum sembuh, karena cenderung mengelakkan diri untuk disembuhkan, berikanlah kami kesembuhannya. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)