Persembahan yang Berkenan

“Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang” (Am 5: 22).
Dalam kehidupan beragama, banyak dari kita kerap lebih berfokus pada ritus dan tata ibadah daripada nilai pokok yang dikehendaki Tuhan, yaitu belas kasih dan kebenaran Injil. Kita sering menghabiskan banyak waktu untuk memperjuangkan kebenaran ritus tertentu dalam liturgi, tapi kurang memberi perhatian pada penghayatan kebenaran Injil dalam kehidupan sehari-hari, seperti cinta kasih, pengampunan, kesetiaan, dan kejujuran. Akibatnya, ibadah mudah dipahami hanya sebagai rutinitas pertemuan Mingguan, bukan sebagai gaya hidup yang dihayati setiap hari.
Tuhan tidak berkenan pada ibadah yang tidak berbuah dalam kehidupan nyata. Ritus itu memang penting, tapi bukan yang paling utama. Dari kedalaman hati-Nya, Tuhan menghendaki agar umat-Nya mempersembahkan korban bakaran yang sejati, bukan hewan sembelihan, darah hewan, uang, atau barang, melainkan hidup yang terus berjuang melakukan kebenaran Injil.
Melalui jatuh bangun dalam mengasihi, mengampuni, setia, dan berlaku jujur, kita mempersembahkan persembahan yang harum di hadapan Tuhan, bahkan lebih berkenan daripada kurban persembahan yang bersifat material.
Fr. Moses Maria, CSE
Rabu, 01 Juli 2026
Am 5: 14-15.21-24 Mzm 50: 7-13.16-17; Mat 8: 28-34
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com