Harga Sebuah Pembebasan

Suatu tindakan pembebasan memerlukan kekuatan fisik, mental, dan rohani. Misalnya pembebasan lahan yang dikuasai pihak yang tak berhak atas tanah itu memerlukan dukungan sekuriti dan penegakan hukum. Pembebasan dari kebodohan memerlukan perangkat ilmu pengetahuan dan kemampuan intelektual dari sekolah dan studi. Pembebasan dari kuasa roh jahat memerlukan kekuatan Roh Kudus dari kuasa Allah yang Maha Tinggi.

Nubuat Nabi Amos pada masa pembuangan menegaskan, bahwa umat Tuhan harus membebaskan diri dari perbuatan jahat dan yang menajiskan supaya Tuhan semesta alam menegakkan keadilan dan mengasihani mereka sepanjang masa.

Demikian juga roh-roh jahat yang merasuki dua orang itu didesak Yesus sehingga mereka dibebaskan. Roh-roh jahat itu lalu masuk ke babi-babi yang akhirnya mati tenggelam di laut. Orang-orang di wilayah itu mendesak supaya Yesus segera meninggalkan tempat mereka, karena takut Yesus akan membawa malapetaka.

Harga suatu tindakan pembebasan dapat berupa pemurnian dan penjernihan yang membawa kemajuan yang lebih baik. Jika penghalang atau pengganggu tidak ada lagi, tentu kehidupan jadi lebih aman dan damai, lalu pertumbuhan baik jasmani dan rohani semakin baik. Dua orang yang dibebaskan roh-roh jahat itu kembali normal. Mereka mewartakan kemuliaan dan kebaikan Allah yang Maha Tinggi kepada orang lain.

Selain itu harga pembebasan dapat berupa efek negatif, karena pihak yang tersingkir itu menciptakan problem baru. Yang tersingkir itu bisa pihak yang lemah, tapi bisa juga yang memiliki kekuatan untuk membalas dendam. Problem baru itu muncul, karena iri hati, marah dan benci tumbuh di dalam pihak-pihak yang berlawanan. Untuk hal ini, harga pembebasan itu akan sangat besar dan mahal. Konflik itu dapat muncul kembali dan bisa menelan korban lagi.

Jika pembebasan itu dilakukan secara baik, teratur dan sangat memperhatikan prinsip “win-win solution” alias tidak didasari aturan kalah dan menang, buah positifnya tentu sangat bernilai dan mendatangkan sukacita dan damai bersama. Sebaliknya pembebasan yang hanya mengikuti prinsip kemenangan menghempaskan kekalahan, problem baru itu sudah menunggu kita di depan.

Yesus tidak ingin meninggalkan kita masalah yang tanpa solusi. Ia menghendaki agar kita tidak boleh menyerah dalam menegakkan keadilan dan mengusahakan kebenaran, meski harus berhadapan dengan penghalang-penghalang, sampai kita rela mengorbankan diri kita. Ini adalah jalan yang dipilih oleh Tuhan Yesus.

“Ya, Allah, semoga melalui firman-Mu, kami tidak menyerah dan mundur menghadapi masalah, tapi kami siap menghadapinya. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)