Petrus Menjaga, Paulus Mewarta, lalu Engkau…?

“Cinta lahir dari sebuah pengenalan, dan pengenalan dekat satu dengan yang lain akan menyuburkan cinta itu.”
Ketika Anda tidak bisa bercerita tentang kisah hidup sahabatmu, maka mungkin Anda mengenal mereka, tapi mereka bukan sahabatmu dan Anda pun bukan sahabat mereka.
Relasi yang dekat dan akrab antara Petrus dengan Sang Guru Yesus, memberikan dorongan jiwa bagi Petrus untuk menjawab dengan jitu pertanyaan Yesus tentang siapakah Dia.
“Engkau adalah Mesias Anak Allah yang hidup.”
Kendatipun Petrus sudah dipuji setinggi langit oleh Sang Guru, tapi Petrus yang sama menolak, ketika Sang Guru pergi ke Yerusalem untuk menderita. Petrus juga menyangkal Sang Guru tiga kali, dan ia pun ragu-ragu terhadap kebangkitan Sang Guru. Tapi Petrus yang sama akhirnya menangisi dosa-dosanya, bertobat, dan kembali pada Sang Guru, sehingga dijadikan batu karang Gereja Kristus di dunia.
Lain Petrus, lain pula Rasul Paulus. Ketika masih sebagai Saulus, ia adalah seorang pengejar dan penyiksa murid-murid Sang Guru. Ketika jadi Paulus, ia adalah Rasul bagi bangsa-bangsa di luar Yahudi.
Atas besarnya jasa kedua tokoh Guru ini, Tuhan memasyurkan nama mereka, bahwa di atas makam mereka pusat kekristenan alias kekatolikan berdiri tegar menghadapi rongrongan zaman, mewariskan dan melestarikan ajaran Kristus dan tradisi para Rasul sampai sekarang ini.
Perjalanan iman kedua Rasul besar ini adalah sebuah proses jatuh bangun murid Yesus. Dari Simon yang lemah, rapuh, dan berdosa, berubah jadi Petrus yang berani berbicara tentang Yesus yang bangkit dalam peristiwa Pantekosta, bahkan sampai mati dengan cara disalibkan terbalik sebagai ungkapan ketidaklayakan disamakan dengan Sang Guru. Demikian pula dari seorang Saulus yang pengejar dan pembunuh, serta pendosa itu berubah jadi terang iman bagi bangsa-bangsa.
Sejenak kita bertanya di hari raya dua Rasul besar dalam Gereja ini;
- 1) Sejauh mana saya mengenal, mencintai, dan memutuskan untuk melayani dan bekerja seperti Paulus yang memutuskan, bahwa upahnya adalah bekerja tanpa upah? Atau apakah saya masih fokus pada upah kerja sekali pun itu adalah pekerjaan Tuhan dan Gereja-Nya. Sejauh manakah kuletakan tugas dan pekerjaanku di atas iman dan keyakinan, bahwa Tuhan pasti menolongku?
- 2) Dalam bentuk apa cintaku kepada Tuhan dan Gereja-Nya, aku ekspresikan? Bentuk dan tindakan pengorbanan apa yang pernah, sedang dan akan aku lakukan kepada Tuhan dan Gereja-Nya sebagai bukti cintaku?
Marilah kita sadari akan satu hal ini: Jika Petrus telah dipilih untuk menjaga Gereja Kristus, Paulus telah diutus untuk mewartakan dan menjadi saksi Kristus, lalu tanyakan pada diri masing-masing. Apa yang telah Anda lakukan, sedang, dan akan Anda lakukan sebagai bukti cinta kepada Tuhan dan Gereja-Nya.
Tuhan sedang menanti jawabanmu, kawan!
Monsignor Inno Ngutra, Pr