1.
Para pemilik kuasa bangga menepuk dada
karena sudah mencaplok hak suara dan kepercayaan rakyat
Para pebisnis tamak bersukacita menguras kekayaan alam
karena berkolusi dengan pemilik kuasa
untuk membuat aneka aturan dan mempermainkan hukum
Mereka menumpuk kekayaan dan menguasai iptek serta senjata canggih
Jadilah komplotan pejabat koruptor, politisi busuk dan pebisnis tamak
Mereka proklamasikan negara kerakusan
Lalu diri mereka sebagai Tuhan atas rakyat dan tuan pemilik tanah air negeri ini
Segala cara dilakukan demi gengsi selera dan kenikmatan
Lalu,
siapakah kita rakyat bangsa ini?
2.
Mereka tahu sanubari rakyat bening polos
maka agama dijadikan alat untuk membungkam
Mareka paham hati nurani rakyat jernih dan peka
Maka narkoba dan judi jadi racun energi pencuci generasi
Mereka sadari pikiran rakyat tidak buta
maka banjir hoaks dan tawaran selera di sosial media digelorakan
Pikiran rakyat harus dijejali sampah polusi
Pendidikan mesti terus diporak- porandakan
agar terlahir laskar generasi dungu idiot
Tangan rakyat diikat dengan bara api
agar tak mampu bekerja hasilkan karya nasib
Kaki rakyat disematkan bara api
agar galau berlari untuk saling membunuh
Iri dengki konflik permusuhan jadi alat untuk menindas rakyat yang galau lara merana
3.
Demi melanggengkan kenikmatan gengsi dan selera
Segala cara dilakukan agar kepentingan lestari
Partai politik diciptakan agar mengkader politisi busuk dan pejabat koruptor
Korupsi dijadikan budaya dan sumber kekayaan
karena hukum dan aturan telah dikendalikan
Pajak diberlakukan hampir segala aspek kehidupan
agar bisa menguras sumber daya nasib rakyat
Kata sumpah jabatan dan slogan janji politik digaungkan
supaya membius harapan rakyat yang miskin lara menderita
Sedangkan faktanya adalah penjajahan dan penindasan atas nama negara
Mungkin ini yang disebut zaman edan
dan pelaksanaan ideologi kapitalis “Panca-gila”
4.
Paradoks negara dan anomali demokrasi terus berkobar di negeri ini
Demi keadilan rakyat dan kesejahteraan seluruh rakyat
itulah gaung dan gema slogan
Padahal faktanya hak rakyat terus dirampok oleh pejabat koruptor, politisi busuk dan pebisnis tamak
Agar rakyat tidak bisa mendengar kebenaran fakta
maka telinganya disumbat bara api
sehingga tuli
Agar mulutnya tak mampu bicarakan fakta nasibnya dan menggugat haknya yang dicaplok
maka bara api dihidupkan membakar bibir dan lidahnya
Supaya tidak melihat segala bentuk kejahatan para pengkhianat bangsa
maka mata rakyat dibakar bara api
dengan aneka kreasi konten sosial media, spanduk dan sandiwara
Entah…
sampai kapan ada hujan dari langit
untuk menyiram dan padamkan bara api
Entah…
ke mana rakyat harus mengemis keadilan dan menadah nasib kesejahteraan?

