Kemudian berkatalah Elisa: “Apakah yang dapat kuperbuat baginya?” (2 Raj 4: 14a).
Perempuan Sunem itu bermurah hati kepada Elisa, karena yakin Elisa adalah seorang yang kudus. Awalnya ia belum mempunyai bukti, bahwa Elisa benar-benar kudus. Tapi ia mengikuti suara hatinya, yang kemudian terbukti benar, ketika nubuat Elisa, bahwa ia akan melahirkan seorang anak itu jadi kenyataan.
Kisah ini memberi kita beberapa teladan. Dari perempuan Sunem, kita dapat belajar untuk berani bermurah hati, mengikuti dorongan hati nurani untuk berbuat baik. Dari Elisa, kita belajar untuk tahu diri, ketika ditolong atau menerima kebaikan dari orang lain.
Ketika Elisa menerima kebaikan dari perempuan Sunem, ia berusaha membalasnya dengan bertanya, bantuan apa yang dapat diberikan kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya.
Semoga kita bisa menjadi orang yang lebih berani berbuat baik dan bermurah hati. Kita juga selalu berusaha membalas setiap kebaikan yang kita terima dari orang lain.
Semoga rahmat Tuhan menguatkan kita untuk jadi saksi kebaikan-Nya bagi sesama.
Rm. Mansur Mariam, CSE
Minggu, 28 Juni 2026
2 Raj 4: 8-11.14-16 Mzm 89: 2-3.16-19; Rm 6: 3-4.8-11 Mat 10: 37-42
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

