Keramahtamahan merupakan bagian dari sopan santun yang lebih berurusan dengan hal-hal tentang menyambut dan melayani sahabat, kenalan, atau tamu yang datang kepada kita. Mereka mengalami keramahtamahan itu dan mengetahui, bahwa sungguh dihargai. Banyak kisah di dalam Kitab Suci yang menunjukkan orang saling berkunjung dan mereka diterima dengan ramah.
Sikap ramah itu tidak bergantung pada tamu yang datang, tidak peduli dia orang penting, kaya dan pandai, orang biasa, miskin dan bodoh. Sikap ini sangat bergantung pada kerelaan dan kemauan baik Tuan rumah. Seandainya tamu asing yang datang itu adalah orang yang sedang sangat susah seperti Yerusalem yang para penghuninya telah dihancurkan bangsa Asyur, penyambutan yang ramah juga sepatutnya diberikan. Tuhan sendiri yang mendengarkan dan menghibur mereka. Yesus Kristus menyambut seorang perwira Romawi yang bukan seorang beriman, dan membuat orang asing itu percaya.
Keramahtamahan yang diberikan dalam kebaikan dan cinta kasih, berbuah juga di dalam kasih. Orang yang dilayani mendapatkan status baru yaitu jadi bagian dari hidup pihak penyambut dan persahabatan terbentuk. Tapi lebih dari itu ialah pahala yang datang dari Tuhan sungguh sesuatu yang tidak terduga. Penyembuhan atas hamba perwira itu dibalas dengan iman yang tumbuh dari orang dan keluarganya yang belum beriman.
Sepasang suami-istri membuat kesepakatan sejak pernikahan mereka, bahwa anggota keluarga dari masing-masing pihak harus diterima dengan ramah di rumah mereka. Mertua dan ipar-ipar dalam keadaan apa pun mereka, harus dapat diterima.
Pada waktu Ayah sang istri yang sedang sakit itu akan menginap di rumah, suami itu tampak kurang nyaman dengan keberadaan mertuanya. Tapi demi janji yang sudah dibuat sejak pernikahan, ia rela menyambut dengan ramah dan ikut merawat mertuanya. Ia harus menghilangkan segala macam keluhan, rasa tidak nyaman, atau rasa bosan.
Jika keramahtamahan ini disertai keluhan, keberatan atau ungkapan penerimaan setengah hati, lebih baik tidak usah ada penyambutan dan tidak usah memiliki tamu. Karena keramahtamahan yang dipaksakan itu akan kehilangan nilainya. Tidak akan terjadi keramahtamahan yang manis, tapi suatu penyambutan yang pahit. Keramahtamahan itu harus natural dan dikuatkan oleh cinta kasih. Biarlah itu diberikan secara baik dan lancar seperti air mengalir di saluran yang tidak terbendung.
“Ya, Tuhan Yesus Kristus, Engkau mengajarkan supaya kami harus menunggu dalam keadaan siap sedia untuk melayani Tuan rumah yang datang hingga tengah malam. Semoga kami selalu ramah kepada siapa pun, meski itu mungkin memberikan rasa kurang nyaman atau mendatangkan kerugian. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

