Aku melukis kanvas tanah
dengan dua bola mataku
Engkau melukis wajah angkasa
juga dengan dua bola matamu
Dia melukis bentangan wajah samudra
Juga dengan dua bola matanya
Sedangkan…
Mereka yang tak bisa melihat
Melukis semesta dengan telinganya
Ternyata…
Bola mata kita semua
Juga telinga mereka yang buta mata
ditulis oleh kisah cerita nalar pikiran
Entah warisan orangtua dan leluhur
Entah catatan sesama saudara
Entah amanah dan wahyu dari alam semesta
Kepada nalar pikiran diri kita
mari kita tagih dan gugat
Dari mana semua kisah cerita yang dicatat
Siapa yang mengajari pikiran bertanya
serta bola mata dan telinga untuk melukis realitas
Kepada nalar pikiran mari tanyakan
Apa dan siapakah hati nurani itu
Di manakah tempat tinggalnya dalam raga
Apakah bedanya dengan sanubari jiwa
Mungkinkah itu gurunya nalar pikiran
Di sudut ruang nalar pikiran
kutemui sebuah kamar rahasia
Di sana rupanya gudang istimewa
ada tersimpan hening kesadaran
ada mantra sakral bertahta
“Aku bertanya maka aku ada dan menjadi”
Ketika kamar tanya pribadi sirna
Entah karena kemalasan merawatnya
Entah karena diracuni lara nasib
Entah karena dikuras dan dihilangkan predator
Maka…
Pribadi tidak lagi ada dan menjadi
Mungkin hanya boneka, topeng dan robot
Siapakah aku sekarang…?

