Di dalam Gereja, baik di Timur maupun Barat dalam hal ini Latin-Roma, kelahiran Yohanes Pembaptis dirayakan pada hari ini. Yohanes telah memperlihatkan perannya yang sangat penting dalam kaitan dengan tugas-perutusan Yesus Almasih di dunia.
Berita tentang karunia Yohanes ke dalam hidup Zakaria dan Elisabet itu merupakan berita besar yang mencengangkan banyak orang. Menyusul perutusan yang dibawa Yohanes, yaitu mempersiapkan manusia untuk menyambut Yesus Kristus. Mesias bagi Israel ialah Raja Agung yang memiliki segala kuasa dan jadi harapan tertinggi demi kehidupan mereka yang tenteram dan damai. Persiapannya tentu harus sangat besar dan terbaik.
Pribadi Yohanes sejak di dalam kandungan Bunda Elisabet, berikut kelahiran, dan perutusannya itu bagaikan karpet merah bagi Raja Agung Yesus Kristus. Ia sudah mencengangkan dunia dan mengubahnya kepada terang kehidupan yang baru, bahkan orang sejahat Herodes segan kepadanya. Tapi ia sendiri mengakui, bahwa Yesus jauh lebih besar dari padanya. Ia relakan diri untuk jadi karpet merah yang membentang di tanah sebagai jalan terbuka dan terhormat supaya Yesus Kristus datang dan melewati di atas dirinya.
Kelahiran Yohanes Pembaptis memberikan kita makna akan sebuah perutusan atau tugas yang merefleksikan panggilan hidup. Nama “Yohanes” yang dilekatkan pada dirinya berarti “Tuhan yang penuh rahmat.” Menurut kitab Nabi Yesaya, pemanggilan nama itu sudah dilakukan sejak dalam kandungan Ibu. Pemanggilan nama mengandung arti bahwa pribadi manusia sudah dikenal dan ditentukan kalau nanti setelah lahir ia sudah mempunyai tugas yang spesifik. Jadi kelahiran seorang anak manusia, kita semua, sudah di dalam rencana Tuhan. Tidak ada seorang anak manusia dilahirkan secara kebetulan atau spontan.
Yohanes mempersiapkan jalan supaya pemilik atau Bos-nya rahmat itu datang ke dunia demi menghalau dosa dan membawa keselamatan. Kita sebenarnya dapat menggunakan setiap rahmat yang dicurahkan oleh Tuhan, khususnya melalui sakramen-sakramen yang telah kita terima untuk menyingkirkan dosa, membaharui hidup, dan menjalankan hidup baru. Memiliki dan menikmati hidup baru itu lantas tidak membuat kita besar kepala, sombong, dan bersenang-senang. Hidup baru kita tetap mengikuti gaya Yohanes yang jadi karpet merah bagi Tuhan, terutama dalam pelayanan-pelayanan kepada orang lain. Biarlah mereka tahu, bahwa Tuhan yang berbuat bagi hidup mereka dan bukan kita yang berbuat.
“Ya, Allah kami, semoga perayaan hari ini memperkuat semangat kami untuk berbagi rahmat-Mu kepada sesama, khususnya mereka yang berkekurangan. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

