1.
Kupu-kupu, Mengapa tak Pulang?
Hei, kupu-kupu
Warna-warni rupamu
sering menggoda banyak mata
Kepak sayapmu ke mana-mana
Jangan sampai engkau lupa
Rumah kepompongmu di mana
Kapan engkau akan pulang
Hai, kupu-kupu
Sudah berapa kembang yang mempesona
Berapa banyak madu yang manjakan dirimu
Dan
pasti aneka aroma merasuk rasamu
Jangan sampai engkau lupa
pada ulat yang memberimu raga
Apakah engkau akan pulang?
Hei, kupu-kupu
Rupanya engkau telah menjelma
Bukan hanya raga tetapi pesona
Bukan cuma di mana berada
tetapi juga ke mana mana berkelana
Apalagi…
kisah cerita aneka kembang bunga
dengan warna warni dan aromanya
Kapan engkau pulang?
2.
Senja di Balai Bambu
Senja melangkah pasti pulang
Berjalan lewati rerumputan kering
karena dipanggang terik musim
Seperti irama ziarah dinamika perjuangan
tak peduli hujan panas dan musim
Dedaunan pohon terlihat genit
saat senja merah mencubit
Nampaknya seperti manja berharap
agar panas mentari tidak membakar
seperti nasib galau merana terkapar
karena digilas haus dan lapar
Rehat di balai bambu pondokku
masih terdengar kicau burung pipit
ceria memanen rezeki meski tidak menabur
Padahal tantangan zaman terus menggempur
nasib hidup seperti di medan tempur
menagih untuk tabah berjuang dengan tegar
Dedaunan pohon hijau yang genit
di antara yang kuning dan kering gugur
terlihat terus merayu sepoi angin membagi kesejukan
Kucoba menatap debu dan tanah yang kering retak
Adakah akar yang tampakkan wajahnya
lalu bisa bercerita tentang lapar dan dahaga

