“Sedahsyat-dahsyatnya badai kehidupan, hanya pribadi yang rendah hati dan bijaksana mampu mengendalikannya.” -Mas Redjo
Sabar dan berserah ikhlas itu yang dihidupi HY, ketika etikat baiknya pada karyawan bengkel di depan tokonya itu tidak dipedulikan, dan bahkan diremehkan.
Bagaimana tidak. Mereka memarkir mobil sembarangan di halamannya tanpa izin. Kadang mereka memfoto dan membuat laporan mobil yang hendak diklaim ke asuransi. Orang yang satu diingatkan, tapi diulang oleh karyawan lainnya.
Sungguh menjengkelkan itu adalah, jika mobil yang diparkir itu ditinggal pergi, dan bertepatan dengan mobil barang datang atau hendak ke luar dari toko, sehingga karyawannya harus melapor ke bengkel agar mobil itu dipindahkan.
Niat baiknya untuk bertepa selira itu disalahgunakan. Mereka ngelunjak. Sedang untuk bertemu dengan Bos pemilik bengkel juga seperti tidak ditanggapi. Meski beberapa kali ia sowan ke bengkel. Tapi Bos seperti tidak mau ditemui? Ia ingin urun saran agar Bos berkenan mencari solusi. Bengkel makin ramai dan mobil-mobil itu tidak diparkir sembarangan di jalan umum, sehingga mengganggu kelancaran dan ketertiban.
Warga juga komplain dengan meletakkan pot-pot tanaman di jalan depan bengkel agar tidak digunakan parkir sembarangan. Tapi pot-pot itu dipindahkan ke atas selokan oleh entah siapa. Isunya, bengkel itu dibekingi pejabat, dan aparat pun segan mengingatkan.
HY yang usaha sembako itu tidak ambil pusing dengan semua itu, asalkan mobil bengkel tidak parkir di halaman toko, kecuali untuk berputar tamunya. Jikapun jalanan macet, karena mobil bengkel parkir sembarangan itu bukan urusannya.
Tidak ada untungnya dan gunanya mengurusi hal-hal yang kontra produktif. Lebih bijak itu mencari rezeki secara halal, tidak hanya lezat dan nikmat, tapi juga menyehatkan jiwa dan raga!
Mas Redjo

