Jejak Kelana Nafas-19
Bocah Angin-545
Nasib Para Pemilik Semesta

Bayi-bayi sahaja
membasahi wajah peradaban dengan air matanya
Menangisi nasib sejarah kelana manusia
yang dipeluk luka lara derita
karena lupa pada amanah Pencipta

Bocah-bocah generasi
Matanya menyinari buana dan angkasa
Senyumnya menyejukkan terik damba semesta
Ketawa cerianya menghibur kemiskinan nalar
yang melukis terus sejarah
dalam tuli nalar dan buta jiwa

Anak-anak tunas belia
menghembus nafas segarkan udara
bergerak lincah mengurai kusutnya zaman
Yang dibelenggu kerakusan dan gengsi
Yang memutar balikkan relasi dengan semesta

Generasi tunas peradaban
menabur kepasrahan sahaja pada sejarah
bahwa semesta adalah Ibu Bapa
bahwa segala isinya adalah sanak saudara
Yang terikat dengan energi cinta
Yang terbalut dalam pelukan kasih sayang
Bukan permusuhan dan perang kerakusan

Laskar bayi dan bocah
adalah pemilik sejati semesta
Mereka datang membawa amanah
bahwa kehidupan adalah kelana Surga
bahwa sejarah hakiki adalah ziarah cahaya
Manusia adalah musyafir cinta kasih sayang

Anak-anak tunas generasi
datang mengambil miliknya yang dipinjam
Tetapi …
kenyataan yang dijumpai adalah sejarah iri dengki dendam
yang ditemui adalah parade kebodohan kerakusan selera
dari tradisi warisan budaya para pendahulunya

Para tunas kehidupan insani
adalah pemilik sejati semesta
putera cahaya abadi Sang Mentari
Puteri kasih sayang lestari Ibu Bumi
Mengapa diwariskan luka lara derita
Mengapa dipaksa membayar kebodohan, kerakusan dan kesombongan?