Pandang Aku

Saat dirimu sedang sedih, pandanglah diri-Ku. Sebab dalam derita-Ku, Aku masih bisa menghiburmu.

Saat dirimu sedang menangis, pandanglah diri-Ku. Sebab dalam sengsara-Ku, Aku masih bisa menguatkanmu.

Saat dirimu sedang kesepian, pandanglah diri-Ku. Sebab dalam perih luka-Ku, Aku masih bisa menemanimu.

Saat dirimu dibenci, ditolak, diejek dan dicela, pandanglah diri-Ku. Sebab dalam cacian dan olok-olokan yang Kuterima, Aku masih bisa mengampuni.

Saat dirimu dilupakan, pandanglah diri-Ku. Sebab selama tiga jam tergantung di atas kayu salib, Aku tetap mengasihi pribadi per pribadi, salah satunya adalah kamu.

Saat dirimu berbeban berat, pandanglah diri-Ku. Sebab dalam keletihan-Ku, Aku masih bisa menolongmu.

Saat dirimu ada dalam masalah yang berat, pandanglah diri-Ku. Sebab dari atas kayu salib ini, Aku masih bisa mendengarkan suaramu.

Saat dirimu merasa tidak berarti dan berharga, pandanglah diri-Ku. Sebab dari muka-Ku yang penuh luka ini tetap terlihat sorot tajam mata-Ku yang mengasihimu.

Saat dirimu jatuh dalam dosa, pandanglah diri-Ku. Sebab Aku berkorban seperti ini untuk menebus dosa-dosamu.

Saat dirimu tidak setia jadi murid-Ku, pandanglah diri-Ku. Sebab Aku ingin mengingatkanmu, cukuplah Yudas Iskariot yang jadi pengkhianat, tapi kamu jangan. Dengarkan suara-Ku, “Mari, ikutlah Aku.”

Rm. Petrus Santoso SCJ