Seberkas Cahaya Lilin

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK


“Cahaya lilin itu adalah simbol dari eksistensi Sang Maha Cahaya”
(Didaktika Hidup Beriman)

Lilin Simbol Iman

Orang-orang sering mengumpamakan, bahwa sungguh, betapa penting dan bermakna kehadiran seberkas cahaya dari sebatang lilin kecil di tengah pekatnya gulita gurun.

Yakinlah, walau hanya sebatang lilin kecil, namun sinar cahaya redupnya mampu memberi cahaya terang di sekitarnya.

Bahkan dari jarak yang sangat jauh orang-orang masih sanggup untuk melihat terang dari sinar cahaya lilin kecil itu.

Momen Sinar Lilin

Dalam menjalani hidup ini, kita menemukan momen-momen ini dalam diri kita.

  • Yang pertama adalah momen yang kita sebut, โ€˜lecutan cahaya mesinโ€™, yaitu tugas dan pekerjaan kita sehari-hari.
  • Yang kedua adalah momen yang kita sebut, โ€˜kilau bola lampuโ€™, yaitu waktu untuk bergaul, bersenang-senang, ngobrol bertegur sapa, dan kabar-kabari.
  • Yang ketiga adalah momen, โ€˜cahaya lilinโ€™, yaitu saat-saat bersama Tuhan, untuk diri kita sendiri, dan untuk sahabat sejati.

Momen-momen โ€˜lecutan cahaya mesin dan โ€˜cahaya bola lampuโ€™ dapat memberikan terang besar yang menyilaukan, โ€˜membutakanโ€™ kita. Maka, bagaimana pun besarnya silau terang dari โ€˜lecutan cahaya mesinโ€™ dan โ€˜kilau bola lampuโ€™ dari hidup kita, janganlah melewatkan lembutnya โ€˜cahaya lilinโ€™.

(Rm. Jerry M. Orbos, SVD)
Berhenti Sejenak Bersama Tuhan 1.

Sungguh, itulah pentingnya kehadiran dan eksistensi dari seberkas cahaya lilin kecil dalam hidup serta karya kita.

Dunia kita beserta isinya, nyata hidup dan bergulat demi meraih kesejahteraan serta kebahagiaan hidup lewat bekerja keras, berelasi dan bersosialisasi dengan sesamanya. Sudah sangat tentu, bahwa hal itu adalah baik.

Namun, hendaknya manusia itu ingat, bahwa semua proses hidup itu bersifat sementara dan bahkan sangat sementara. Mengapa?

Apa Tujuan Hidup Kita

Masih segarkah ingatan kita dengan ketiga buah pertanyaan abadi ini:

“Manusia, siapakah, dari manakah, dan hendak ke manakah engkau?”

Kita berasal dari Sang Hidup, Sumber segala keberadaan ini. Kita hidup dan berproses sesuai kehendak Ilahi agar kita menguasai alam semesta ini. Ingatlah selalu, bahwa dunia beserta isinya ini, hanya sebuah kesementaraan belaka.

Maka, sungguh wajar dan benar, jika kita membutuhkan seberkas cahaya lilin dan tidak sekadar berlelah-lelah di balik deru galau mesin dan kegaduhan hidup.

“Mari, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu!”

Kediri,ย 22ย Agustusย 2024