Serpihan Jejak Musyafir – 242
Menangkap Pesona Makna Realita

Simply da Flores

1.
Kopi Pahit di Kedai

Aroma wangi kopi
menyapa bangunkan pagiku
Kepulan asap berlari dari warung pojok
menyusuri gemerlap metropolitan

Sekawanan burung nyanyi dan menari
meramaikan bola mataku
mengajak aku menyibak hitamnya kopi
Pahitnya rindu nikmatnya hitam
dalam deru roda hari tersenyum

Orang sibuk melukis kisah
pada jalanan, awan, asap dan wajah
Bibirku pertemukan api asap dan kopi
biar mereka berikan kata puisi
untuk memanggil datangnya pelangi
ikut nongkrong di kedai sanubari

2.
Sebuah Lukisan Sosok Jokpin

Api kata membakar jemarimu
debu rindu turun mencium kakimu
ajak bergurau dengan ibu
rahim debu tanah yang bisu

Para petani tembakau galau
datang meminta mantra sajakmu
lalu engkau terbangkan asapmu
pergi bertemu hitam kopimu

Kopi pahit, rokok dan api
jadi sahabat karibmu sehari-hari
berkelana memulung kata
berkelana mencari angkringan fakta

Jokpin
Engkau telah kembali ke tanya
Engkau telah menyelami fakta
Engkau menulis sajak jenaka
Engkau jadi puisi dan kata-kata

Jokpin
Angkringan pasti pertemukan kita
dalam pahit kopi kata fakta
dengan kepulan asap damba
dengan energi api kata-kata jenaka

3.
Misteri Duri dan Kembang Mawar

Duri-duri mawar tersenyum
setelah lahirkan pesona kembangnya
dan tebarkan wangi aroma

Duri-duri mawar diam hening
pada wajah lara yang merintih
dalam pelukan hijau langit
dan dekapan awan merah

Mawar pasti berduri misteri
Rindukan embun pagi
membawa air puaskan dahaga
Dambakan sinar cahaya mentari
mengantar pelangi santapan jiwa raga

Duri-duri mawar misteri
Menusuk jemari merawat sanubari
Menggores telapak menghias hari
Membiaskan kreasi warna-warni
Tebarkan aroma bijak bestari