Ayat-ayat Musyafir 116
Pancasila, bagi Bangsa dan Negara Indonesia

Oleh: Simply da Flores


| Red-Joss.com | Tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Peringatan Nasional akan kelahiran Pancasila. Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Bangsa Indonesia. Proses perjuangan membumikan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terus diupayakan. Nilai-nilai dalam Pancasila perlu diketahui, difahami, dihayati dan diamalkan oleh seluruh bangsa.

Sebagai generasi muda, saya coba mencatat harapan dan kerinduan akan Pancasila sebagai sumber energi pemersatu bangsa dan NKRI, dalam sajak:

Panca Sajak Milenial Pewaris NKRI

1.
Sajak Pertama: Agama Sirnakan Tuhan

Salam Indonesiaku!
Salam Pancasila!

Assalamualaikumโ€ฆ Wa Rahmatullahi wa barakatu

Om Swastiastuโ€ฆ
Namo Budhayaโ€ฆ
Salam kebajikanโ€ฆ
Syallom, Syallomโ€ฆ
Ave, Aveโ€ฆ

Indonesiaku โ€ฆ
Kaya dengan aneka agama
Kaya berbagai macam kepercayaan
adat budaya warisan leluhur
Kaya upacara atas nama agama

Tetapiโ€ฆ
Tuhan semakin sirna bahkan
Tuhan semakin tak berdaya di negeri ini

Entah mengapaโ€ฆ.
Hanya para orangtua
Hanya para pendahulu
Hanya para pemuka dan tokoh
Hanya para cerdik pandai
Yang mampu menjawab kami
para generasi muda pewaris NKRIโ€ฆ

2
Sajak Kedua: Yang Bathil dan Biadab

    Ada slogan damba
    Lahirnya keadilan dan pribadi beradab
    Apakah rindu damba realistis
    ataukah hanya slogan utopia?

    Kutanya pada diriku
    Apakah aku salah mendengar dan membaca?

    Jika agama tanpa Tuhan
    Jika kepercayaan tanpa Sang Hyang
    Jika ritual tanpa spiritual
    Jika manusia tanpa kewarasan
    Jika insan tanpa nurani jiwa
    Jika selera dan ego merajai pribadi
    Jika uang, kuasa, dan kenikmatan jadi tujuan

    Di mana akan tumbuh keadilan
    Apakah ada adab, moralitas, dan iman?

    Sangat mungkin tercipta
    Kemanusiaan yang bathil dan biadab
    Lalu,
    kemana kiblat kami generasi pewaris NKRI?

    3.
    Sajak Ketiga: Boneka-Boneka Digital

    Hanya aku,
    engkau dan dia,
    kamu dan mereka
    Tidak ada lagi KITA
    Hanya ada boneka-boneka

    Pentingkah saling melengkapi?
    Benarkan saling membutuhkan?

    Ataukah
    Hanya saling memanfaatkan
    Dan
    Hanya saling memangsa?

    Apakah ini zaman edan?
    Saatnya manusia tanpa nurani dan sanubari
    Zamannya manusia tanpa hati dan jiwa
    Untuk apa bicara tentang KITA?

    Apa itu Persatuan Indonesia
    Jika yang dibangun hanya badan
    Jika jiwa hanya kata dalam lagu
    Maka
    Apakah bisa tumbuh
    Persatuan Indonesia
    Dari tanaman:
    material fisik,
    Dari korupsi dan tipu muslihat,
    Dari kemunafikan dan sumpah palsu atas nama Tuhan dan agama?

    Adakah persatuan di tengah belantara
    Iri dengki dendam
    Permusuhan dan perang saudara

    Dimana KITA?
    Perlukah PERSATUAN
    di negeri tipu-tipu
    di negara kata-kata
    Yang kaya agama tanpa Tuhan?
    Yang kaya bangunan, tanpa nurani dan jiwa

    4.
    Sajak Keempat: Puing-Puing Hikmat, Kebijaksanaan dan Kedaulatan Rakyat

    Menang, menang dan menangโ€ฆ
    Menang takhta kekuasaan
    Menang uang dan harta
    Menang gengsi dan kenikmatan

    Atas nama agama dan Tuhan
    dengan sumpah jabatan dan aturan
    Demi bangsa dan negara
    Demi kepentingan rakyat
    Demi kejayaan NKRI

    Kerakyatanโ€ฆ
    Hikmat kebijaksanaanโ€ฆ
    Permusyawaratan
    Perwakilanโ€ฆ.
    Apakah masih ada makna?

    Ini kata-kata penuh tanya
    bagi putra putri bangsa
    Ini madu atau racun
    bagi generasi pewaris negeri

    Kedaulatan rakyat
    sudah dibawa pergi para wakil rakyat
    Mereka sudah jadi pekerja partai
    Mereka sudah digelar petugas parpol
    Suara rakyat sudah dibeli

    Apalagi
    Wakil rakyat lebih takut pimpinan parpol
    daripada sumpah jabatan
    Atas nama Tuhan dan agama

    Laluโ€ฆ
    Kami generasi pewaris NKRI
    Hanya berlari dengan tanya
    Di antara serpihan makna
    hikmat kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan

    5.
    Sajak Kelima: Negeri Tipu-tipu, Negara Kata-kata

    Kudengar sajak kawan-kawanku
    Bicara tentang tanyaโ€ฆ
    Cerita tentang faktaโ€ฆ.

    Pancasila,
    antara kata dan fakta
    Indonesia
    antara kata dan tipu

    Ke manakah NKRI
    Jika
    Tanpa Tuhan
    Tanpa perikemanusiaan
    Tanpa harkat martabat

    Tanpa jiwa dan raga
    Tanpa perdamaian dan patriotisme
    Tanpa kejujuran dan hukum yang adil
    Tanpa kesejahteraan?

    Ini salah siapa,
    Ini dosa siapa?

    Apakah salah orangtua yang mengandung dan melahirkan anak generasi bangsa ini?

    Apakah salah dosa para pahlawan yang memerdekakan negeri ini dan melahirkan NKRI?

    Apakah dosa pemimpin adat dan agama?

    Apakah salah dosa pejabat negara dan politisi?

    Apakah keberhasilan pebisnis dan pemodal bersama koruptor dan parpol?

    Apakah karena Ideologi Pancasila menjadi tonggak kayu, pagar dan sampah?

    Jangan-jangan,
    ini salah dan dosanya Tuhan
    Karena tidak berdaya
    Karena tidak berkuasa
    Karena miskin merana
    Di zaman digital milenial
    yang mampu ciptakan kecerdasan dengan IT
    dan bisa dijadikan Tuhan
    serta menggantikan Pancasila

    Demi kemakmuran bangsa Indonesia
    Tanpa kesadaran, tanpa nurani dan jiwa
    Wujudkan segera INDONESIA RAYA
    MERDEKAย –ย MERDEKA

    Foto ilustrasi: Istimewa