Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Mengerjakan sesuatu yang sulit itu akan mendatangkan kebaikan untukmu. Jika tidak mencoba melakukan sesuatu melebihi dari yang sudah dikuasai, Anda tidak akan pernah bertumbuh
(Ronald E. Osborn)
Manusia Hidup, karena berkat Rahmat serta Kasih Tuhan
Manusia hidup di atas bumi ini mutlak, karena berkat rahmat serta kasih Tuhan. Tanpa rahmat dan kasih-Nya, hidup manusia akan merana dan tidak akan mampu menghasilkan buah-buah kehidupan. Tapi banyak orang yang hidup dengan sesuka hatinya, karena mereka enggan untuk menerima tantangan hidup lewat semua kenyataan pahit. Mereka merasa lebih nyaman, jika hidup sesuai keinginannya sendiri. Lewat cara-cara ini, mereka sebetulnya telah mengingkari rahmat dan kasih Tuhan yang dicurahkan secara cuma-cuma ke dalam diri mereka.
Tokoh Salib
Seorang pria selalu mengeluh panjang, bahwa hidupnya ini berat baginya. Tuhan menyahutinya, “Mari, datanglah kepada-Ku.”
Tuhan membawanya ke sebuah toko salib. Di sana betapa pria itu tercengang memandang banyak salib dengan berbagai bentuk dan ukuran.
Dengan senyum tulus Tuhan menawarkan kepadanya, “Ambillah salib mana yang engkau sukai.”
Pria itu segera mengambil salib-salib kesukaannya dan mencoba untuk dipikulnya. Dia berpindah dan mencoba memikul dari sebuah salib ke salib berikutnya lagi. Ternyata ada salib yang terlalu panjang dan ada pula yang terlalu pendek baginya. Akhirnya dia hampir berputus asa, karena belum sebuah salib yang sesuai dengan seleranya.
Saat itu matanya melirik ke sudut kiri toko itu dan di sana tersandar sebuah salib yang sudah berdebu, karena lama di situ.
Diseretnya salib yang sudah berdebu dengan hati-hati lalu dicoba untuk dipikul ke pundaknya.
“Inilah salib pilihanku,” serunya kepada Tuhan.
“Baiklah, bawalah salib itu sesuai sukamu,” jawab Tuhan.
Setiba di luar toko, Tuhan berkata kepada pria itu, “Saya senang, bahwa kamu menyukai salib itu lagi; bukankah salib itu dulu sudah kamu kembalikan ke sini?”
(Bruno Hagspiel)
1500 Cerita Bermakna
Peri Bahasa
“Egoisme benar-benar menghancurkan komunikasi, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia”
(Hubert Van Zeller)
Sebuah Kisah Klasik
Di balik kisah alegori klasik yang sangat populer (The Cross Shop atau The Man Who Exchanged His Cross), yang mendeskripsikan pergumulan manusia tentang penderitaan, keluhan, dan kedaulatan Tuhan. Kala manusia dihimpit duka: kemiskinan, penyakit, kesepian yang terasa sangat berat di pundaknya, maka manusia pun akan mengeluh lewat doa-doanya.
Makna Teologi dan Spiritual
- 1. Ilusi “Rumput Tetangga lebih Tinggi: manusia itu makhluk yang doyan untuk membandingkan nasib hidupnya dengan nasib tetangganya. Dari sana akan melahirkan sikap cemburu, kebencian, dan keluhan soal Tuhan yang dianggapnya tidak bersikap adil.
- 2. Salib itu Dibuat Khusus (Custom – Made): Tuhan tidak asal memberikan beban, karena salib itu sudah dirancang khusus bagi setiap kapasitas jiwa orang.
- 3. Proses Kesesuaian (Acceptance) vs Penolakan (Resistance): Pria malang itu ternyata telah menderita sebanyak dua kali, sekali soal beban salib dan kedua soal sikap perlawanannya. Itulah manusia, suka mencari enak sesuai keinginannya sendiri. Tidak jarang, manusia pun kian bersikap egois di dalam hidupnya.
Refleksi
Ya, itulah realitas sikap manusia. Bahwa, selalu saja ada omelan serta keluhan panjang dan sikap tidak puas kepada Tuhan dan sesama.
“Domine, Doce Nos Gratias Agere pro Vita Nostra”
“Tuhan, Ajarilah Kami untuk selalu Bersyukur atas Realitas Hidup Kami”
Kediri, 24 Mei 2026

