Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Kamu adalah garam dunia” dan “Kamu adalah terang dunia.” Sabda ini bukan sekadar ajakan untuk berbuat baik, melainkan sebuah identitas yang diberikan kepada setiap pengikut Kristus. Hal ini dimaksudkan, bahwa kita yang dipanggil untuk jadi garam dan terang itu hendaknya hidup bersatu dengan-Nya. Kita yang berada di tengah dunia untuk membawa rasa, makna, dan arah bagi kehidupan banyak orang.
Yesus adalah Garam dan Terang sejati. Ia datang ke dunia yang kehilangan cita rasa kasih, keadilan, dan kebenaran. Ia masuk ke dalam kehidupan manusia dengan segala suka dan dukanya. Ia berinkarnasi dan melibatkan diri secara penuh dalam kehidupan umat-Nya.
Kita jadi garam dan terang itu berarti mengikuti cara hidup Yesus: hadir, dekat, peduli, dan ikut merasakan yang dialami sesama. Kehadiran kita untuk membawa harapan bagi yang putus asa, penghiburan bagi yang terluka, dan semangat bagi mereka yang mulai kehilangan arah.
Garam itu memiliki tugas untuk memberi rasa dan menjaga agar sesuatu tidak membusuk. Demikian pula kehidupan kita sebagai murid Kristus. Kita dipanggil untuk memberi pengaruh yang baik: dalam keluarga, komunitas, tempat kerja, maupun lingkungan sosial. Kita menghadirkan nilai Injili melalui perkataan dan tindakan yang membangun. Dunia sering kali terasa tawar, karena egoisme, ketidakpedulian, dan persaingan yang tidak sehat. Kehadiran kita hendaknya menjaga dunia agar tidak kehilangan kemanusiaannya.
Terang itu memiliki tugas untuk mengusir kegelapan dan menunjukkan jalan. Dunia kita saat ini masih dipenuhi berbagai bentuk kegelapan: kebencian, kekerasan, ketidakjujuran, dan hilangnya penghargaan terhadap martabat manusia. Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk jadi terang yang membantu orang lain melihat jalan menuju kebaikan dan kebenaran. Terang itu dapat ditunjukkan dengan senyum yang tulus, kesediaan mendengarkan, keberanian membela yang lemah, dan kesetiaan menjalankan tugas sehari-hari dengan penuh kasih.
Dalam terang iman, kita melihat, bahwa seluruh sejarah keselamatan mencapai kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus. Perjanjian Lama yang diwakili oleh Musa sebagai pembawa hukum dan Elia sebagai wakil para Nabi menemukan pemenuhannya dalam diri-Nya. Sehingga yang dulu dijanjikan Allah jadi nyata dalam Kristus. Karena itu, jadi garam dan terang itu bukan sekadar menjalankan aturan atau tradisi keagamaan, melainkan menghadirkan Kristus yang hidup dalam dunia masa kini. Hidup kita dipanggil untuk jadi tanda, bahwa Allah masih berkarya dan masih mencintai dunia.
“Ya Tuhan, kuatkanlah kami untuk senantiasa menjadi garam dan terang yang berguna di dalam hidup dan pekerjaan kami setiap hari. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

